PERAN
PROFESI PENDIDIK FORMAL DAN NON FORMAL DI ERA REVOLUSI
INDUSTRI 4.0
Nina
Deslina
sunfloweraddict.blogspot.com
Pendidikan
Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Jakarta
Jl. Pemuda No.10 Rawamangun,
Jakarta Timur, Indonesia 13220
Abstrak
Artikel ini akan
membahas tentang bagaimana cara seorang pendidik pendidikan formal maupun nonformal
mempertahankan sikap professional dalam menghadapi era revolusi industry 4.0.
Revolusi Industri 4.0 (RI 4.0) adalah era digitalisasi, internet tentang hal,
internet dengan manusia, big data, iCloud
data, dan teknologi kecerdasan buatan yang dibentuk oleh manusia. Hal tersebut
mengubah banyak hal dalam hidup termasuk pendidikan. RI 4.0 bisa menyebabkan
dampak negative dan mengancam keberadaan guru bahkan sekolah. Tetapi RI 4.0
juga memiliki dampak positif karena bisa menghasilkan banyak sekali kesempatan
dalam membuat inovasi baru, mempermudah proses belajar mengajar, mengoptimalkan
produktivitas mengajar seorang pendidik serta meningkatkan hasil belajar siswa.
Disamping itu, pendidik harus mewaspadai kemajuan teknlogi tersebut dan
beradaptasi dalam kemajuan ini, pendidik pada abad 21 harus bisa mensesuaikan
diri, selalu mempelajari hal baru, dan harus bisa melihat celah dan kesempatan
yang terdapat pada era RI 4.0 untuk keterampilan mengajar agar menjadi seorang
pendidik yang baik, professional, serta mengikuti kemajuan teknologi.
Kata kunci: Pendidik,
Peran, Profesionalitas, Revolusi Industri 4.0
PENDAHULUAN
Guru
adalah kunci dan pemeran utama dalam membina, membimbing, serta mendidik dalam
proses pembelajaran di dalam maupun luar kelas, baik pendidikan formal maupun
nonformal. Konten di dalam kurikulum yang sudah matang, fasilitas pembelajaran
yang lengkap, peraturan permainan pembelajaran yang jelas, atau beberapa instrument
pembelajaran tidak mempunyai banyak dampak dalam kesuksesan pembelajaran jika
tidak didukung oleh kesiapan guru di depan (Palmer, 1998). Karena alasan ini,
pemerintah Indonesia sudah menyusun perhatian khusus untuk memperhatikan sikap
profesionalitas dari para pengajar sepuluh tahun belakangan ini, terutama
berlakunya Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) Nomor 14 Tahun 2005 yang menyebutkan
bahwa guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai dan mengevalusi peserta didik pada pendidikan anak usia dini
jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan menengah
Meskipun pemerintah sudah memberlakukan berbagai upaya
untuk meningkatkan profesionalitas guru, tantangan menjadi seorang pendidik
terutama di Indonesia tidaklah mudah. Waktu terus berjalan dan era baru muncul
dengan berbagai tantangannya. Disamping itu, pendidik professional adalah ia
yang tetap bisa menyesuaikan kemampuannya dengan keadaan dan waktu yang berubah.
Mereka adalah yang bisa melihat kesempatan yang dibawa oleh era baru tersebut
dan bisa menghadapi tantangan serta melewati tantangan tersebut.
Dalam hal lain, pendidikan terbagi menjadi 3 yaitu
pendidikan formal, non formal dan informal. Dalam artikel kali ini hanya akan
membahas tentang peranan pendidik formal dan non formal. Pengertian pendidikan formal
sendiri adalah jalur pendidikan yang sifatnya terstruktur serta berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar,
pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi (UU No.20 thn 2003).
Contoh pendidikan
formal adalah SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi. Sedangkan pendidikan non formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan
formal yang dapat dilaksanakan
secara terstruktur dan berjenjang (UU No.20 thn 2003). Union Eropa sering
sekali mengatakan bahwa sangat penting untuk mengadakan pendidikan non formal.
Karena pendidikan non formal ini dirasa dapat mengembangkan hasil pembelajaran
formal yang didapatkan di sekolah. Sehingga proses pembelajaran tidak hanya
berlangsung pada jenjang tertentu, melainkan pembelajaran sepanjang hayat
(Tudor, 2013). Contoh pendidikan non formal adalah PAUD, kelompok bermain, dan
lain sebagainya.
METODE
PENELITIAN
Pada kajian ini menggunakan jenis penelitian
studi literature. Studi literature adalah mencari referensi teori yang relefan
dengan kasus atau permasalahan yang ditemukan. Referensi teori yang diperoleh
dengan jalan penelitian studi literatur dijadikan sebagai analisis untuk hasil
dan pembahasan dalam artikel kali ini.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Menurut Helmi
(2015), guru atau pendidik professional bukan hanya untuk sekedar mengajar,
melainkan pendidik dituntut untuk mampu menciptakan kondisi belajar yang
menantang kreativitas dan aktivitas siswa, motivasi siswa, menggunakan
multimedia, multimode, dan multisumber agar mencapai tujuan pembelajaran yang
diharapkan dengan hasil akhir belajar siswa meningkat dan siswa menjadi aktif,
kreatif, inovatif dan berkarakter kuat dan dituntut untuk mengikuti
perkembangan teknologi di zaman millennial ini. Dalam hal ini, peran guru sangat
berarti dan dibutuhkan.
Peran
profesi pendidik formal dan non formal pada dasarnya adalah bertujuan sama, yaitu
sebagai organisator, demonstrator, pembimbing, pengelola kelas, fasilitator,
mediator, inspirator, informator, motivator, konektor, inisiator, evaluator dan
masih banyak lagi. Dengan hadirnya era RI 4.0 ini rasanya pendidik harus
menyiapkan diri agar bisa beradaptasi di kemajuan teknologi serta menyisipkan
kemajuan teknlogi tersebut di dalam pembelajaran. Schwab (2017) menyimpulkan
bahwa pendidikan yangdipengaruhi oleh era RI 4.0 disebut sebagai pendidikan 4.0
dimana mesin-mesin pintar bekerja menggantikan manusia.
Tantangan terbesar dari era RI 4.0 adalah, era ini bisa
mengubah struktur, model, dan tipe dari pekerjaan yang membutuhkan. Sebagai buktinya,
pekerjaan yang sudah lama terancam dengan kehilangan dan kebangkrutan. Gerd
Leonhard mengestimasikan dalam era digitalisasi ini akan menghilangkan pekerja
manusia sekitar 1-1.5 juta dari tahun 2015-2025 dan digantikan oleh mesin. United States
Department of Labor mengestimasikan bahwa di masa yang akan datang, 65% pelajar
di sekolah akan kerja di bidang yang tidak pernah ada di zaman sekarang (Naim,
2017).
Pada hari ini,
guru akan menghadapi banyak anak yang bermain gadget sejak kecil. Hal tersebut adalah satu tantangan terbesar
seorang guru untuk mengantisipasi kondisi dalam hal pembelajaran di dalam
kelas. Guru harus memikirkan bagaimana caranya untuk mengurangi intensitas
pemakaian aplikasi yang tidak berkaitan dengan pembelajaran di gadget tersebut khusunya di dalam waktu
pembelajaran kelas. Jika tidak, kelas akan menjadi membosankan dan murid
pastinya akan lebih tertarik dengan gadget
dibandingkan mendengarkan penjelasan dari guru yang berada di depan kelas. Murid
akan mengasumsikan bahwa mereka sudah tidak butuh pengajar karena mereka bisa
menemukan konten pembelajaran mereka hanya dengan membuka gadget. Bahkan mereka sudah bisa mengetahui konten pelajaran jauh
sebelum konten tersebut diajarkan di dalam kelas.
Jika sudah menghadapi hal yang seperti itu, yang
dibutuhkan pendidik untuk menjalankan perannya adalah sebuah strategi. Bagaimana
caranya menggabungkan teknologi tersebut ke dalam pelajaran sehingga teknologi
tersebut menjadi berguna dan juga memaksimalkan serta memanfaatkan kemajuan
teknlogi sehingga tidak menjadi bumerang untuk diri sendiri. Yang jelas, peran
guru tidak bisa tergantikan oleh teknologi. Yang artinya, dalam hal ini guru
harus sebaik-baiknya memanfaatkan teknologi di dalam pendidikan dengan contoh
memakai berbagai platform kelas online atau juga bisa dengan social media. Dengan begitu, peran guru
tetap dijalankan dan pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan baik untuk
murid maupun pendidik. Ringkasnya, intregasi dalam pembelajaran dengan
tekhnologi akan menyebabkan keefektivan dan kemudahan bagia pencapaian
pembelajaran dalam era digital.
PENUTUP
Era Revolusi Industri 4.0 membawa banyak perubahan dalam
kehidupan manusia dan merubah pola pergerakan manusia. Era RI 4.0 juga
mempengaruhi berbagai aspek di dalam kehidupan manusia khususnya dalam pembelajaran.
Meskipun mempunyai pengaruh dalam pengurangan tenaga kerja manusia, dan
munculnya sejumlah tantangan yang pastinya tidak akan mudah. Dalam sector pendidikan,
pendidik sudah mampu menakhlukan tantangan dari era RI 4.0 dan memanfaatkan
kemajuan teknologi. Antara adaptasi dan perubahan, pendidik harus terus bisa
memikirkan cara pembelajaran dan peran guru dalam pembelajaran dan juga harus
mengadaptasi program seperti konten kurikulum untuk mempersiapkan murid pada
abada 21 dan juga memilih dan menerapkan model pembelajaran yang cocok untuk
generasi millennial. Dalam hal ini, semoga kita dapat memanfaatkan teknologi
secara maksimal dan menghasilkan keuntungan yang dihasilkan dari RI 4.0 untuk
pendidikan di masa depan.
DAFTAR
PUSTAKA
Afrianto. Being a Professional Teacher in the Era of
Industrial Revolution 4.0: Opportunities, Challenges and Strategies for
Innovative Classroom Practices. English Language Teaching and Research Vol
2 No 1, Desember 2018 ISSN 2614-1108.
Angelianawati, L. Being an English Teacher in Industrial
Revolution 4.0: an Overview About Roles, Challenges, and Implications. JDP
Volume 11, Nomor 3, November 2018: 307-316.
Helmi, J. (2015). Kompetensi Profesionalisme Guru. 7(2).
Hal 318
Naim, A. (2017). Ristek & Pendidikan Tinggi Menghadapi
Perekonomian Baru.
https://www.kopertis7.go.id/uploadmateri_pedoman/Ainun_Naim.pptx.
Diakses pada 19 Mei 2019
Palmer, P. J. (1998). The courage to teach: exploring the inner
landscape of a teacher's life. San
Francisco, Calif:
Jossey-Bass.
Schwab, Klaus. The Global Competitiveness Report 2017–2018.
World Economic Forum Insight Report, ISBN-13: 978-1-944835-11-8.
Tudor, Sofia Loredana. (2013).
Formal, non formal, informal in education.
Sciverse Sciencedirect: Procedia Social and Behavioral Science.

