Selasa, 21 Mei 2019

PERAN PROFESI PENDIDIK PENDIDIKAN FORMAL DAN PENDIDIKAN NONFORMAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0


PERAN PROFESI PENDIDIK  FORMAL DAN  NON FORMAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Nina Deslina
sunfloweraddict.blogspot.com
Pendidikan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Jakarta
Jl. Pemuda No.10 Rawamangun, Jakarta Timur, Indonesia 13220
Abstrak
Artikel ini akan membahas tentang bagaimana cara seorang pendidik pendidikan formal maupun nonformal mempertahankan sikap professional dalam menghadapi era revolusi industry 4.0. Revolusi Industri 4.0 (RI 4.0) adalah era digitalisasi, internet tentang hal, internet dengan manusia, big data, iCloud data, dan teknologi kecerdasan buatan yang dibentuk oleh manusia. Hal tersebut mengubah banyak hal dalam hidup termasuk pendidikan. RI 4.0 bisa menyebabkan dampak negative dan mengancam keberadaan guru bahkan sekolah. Tetapi RI 4.0 juga memiliki dampak positif karena bisa menghasilkan banyak sekali kesempatan dalam membuat inovasi baru, mempermudah proses belajar mengajar, mengoptimalkan produktivitas mengajar seorang pendidik serta meningkatkan hasil belajar siswa. Disamping itu, pendidik harus mewaspadai kemajuan teknlogi tersebut dan beradaptasi dalam kemajuan ini, pendidik pada abad 21 harus bisa mensesuaikan diri, selalu mempelajari hal baru, dan harus bisa melihat celah dan kesempatan yang terdapat pada era RI 4.0 untuk keterampilan mengajar agar menjadi seorang pendidik yang baik, professional, serta mengikuti kemajuan teknologi.
Kata kunci: Pendidik, Peran, Profesionalitas, Revolusi Industri 4.0
PENDAHULUAN
Guru adalah kunci dan pemeran utama dalam membina, membimbing, serta mendidik dalam proses pembelajaran di dalam maupun luar kelas, baik pendidikan formal maupun nonformal. Konten di dalam kurikulum yang sudah matang, fasilitas pembelajaran yang lengkap, peraturan permainan pembelajaran yang jelas, atau beberapa instrument pembelajaran tidak mempunyai banyak dampak dalam kesuksesan pembelajaran jika tidak didukung oleh kesiapan guru di depan (Palmer, 1998). Karena alasan ini, pemerintah Indonesia sudah menyusun perhatian khusus untuk memperhatikan sikap profesionalitas dari para pengajar sepuluh tahun belakangan ini, terutama berlakunya Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) Nomor 14 Tahun 2005 yang menyebutkan bahwa guru adalah pendidik professional dengan tugas utama  mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevalusi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan menengah
            Meskipun pemerintah sudah memberlakukan berbagai upaya untuk meningkatkan profesionalitas guru, tantangan menjadi seorang pendidik terutama di Indonesia tidaklah mudah. Waktu terus berjalan dan era baru muncul dengan berbagai tantangannya. Disamping itu, pendidik professional adalah ia yang tetap bisa menyesuaikan kemampuannya dengan keadaan dan waktu yang berubah. Mereka adalah yang bisa melihat kesempatan yang dibawa oleh era baru tersebut dan bisa menghadapi tantangan serta melewati tantangan tersebut.
            Dalam hal lain, pendidikan terbagi menjadi 3 yaitu pendidikan formal, non formal dan informal. Dalam artikel kali ini hanya akan membahas tentang peranan pendidik formal dan non formal. Pengertian pendidikan formal sendiri adalah jalur pendidikan yang sifatnya terstruktur serta berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi (UU No.20 thn 2003). Contoh pendidikan formal adalah SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi. Sedangkan pendidikan non formal  adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang (UU No.20 thn 2003). Union Eropa sering sekali mengatakan bahwa sangat penting untuk mengadakan pendidikan non formal. Karena pendidikan non formal ini dirasa dapat mengembangkan hasil pembelajaran formal yang didapatkan di sekolah. Sehingga proses pembelajaran tidak hanya berlangsung pada jenjang tertentu, melainkan pembelajaran sepanjang hayat (Tudor, 2013). Contoh pendidikan non formal adalah PAUD, kelompok bermain, dan lain sebagainya.
METODE PENELITIAN
Pada kajian ini menggunakan jenis penelitian studi literature. Studi literature adalah mencari referensi teori yang relefan dengan kasus atau permasalahan yang ditemukan. Referensi teori yang diperoleh dengan jalan penelitian studi literatur dijadikan sebagai analisis untuk hasil dan pembahasan dalam artikel kali ini.
HASIL DAN PEMBAHASAN
            Menurut Helmi (2015), guru atau pendidik professional bukan hanya untuk sekedar mengajar, melainkan pendidik dituntut untuk mampu menciptakan kondisi belajar yang menantang kreativitas dan aktivitas siswa, motivasi siswa, menggunakan multimedia, multimode, dan multisumber agar mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan dengan hasil akhir belajar siswa meningkat dan siswa menjadi aktif, kreatif, inovatif dan berkarakter kuat dan dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi di zaman millennial ini. Dalam hal ini, peran guru sangat berarti dan dibutuhkan.
Peran profesi pendidik formal dan non formal pada dasarnya adalah bertujuan sama, yaitu sebagai organisator, demonstrator, pembimbing, pengelola kelas, fasilitator, mediator, inspirator, informator, motivator, konektor, inisiator, evaluator dan masih banyak lagi. Dengan hadirnya era RI 4.0 ini rasanya pendidik harus menyiapkan diri agar bisa beradaptasi di kemajuan teknologi serta menyisipkan kemajuan teknlogi tersebut di dalam pembelajaran. Schwab (2017) menyimpulkan bahwa pendidikan yangdipengaruhi oleh era RI 4.0 disebut sebagai pendidikan 4.0 dimana mesin-mesin pintar bekerja menggantikan manusia.
            Tantangan terbesar dari era RI 4.0 adalah, era ini bisa mengubah struktur, model, dan tipe dari pekerjaan yang membutuhkan. Sebagai buktinya, pekerjaan yang sudah lama terancam dengan kehilangan dan kebangkrutan. Gerd Leonhard mengestimasikan dalam era digitalisasi ini akan menghilangkan pekerja manusia sekitar 1-1.5 juta dari tahun 2015-2025  dan digantikan oleh mesin. United States Department of Labor mengestimasikan bahwa di masa yang akan datang, 65% pelajar di sekolah akan kerja di bidang yang tidak pernah ada di zaman sekarang (Naim, 2017). 
            Pada hari ini, guru akan menghadapi banyak anak yang bermain gadget sejak kecil. Hal tersebut adalah satu tantangan terbesar seorang guru untuk mengantisipasi kondisi dalam hal pembelajaran di dalam kelas. Guru harus memikirkan bagaimana caranya untuk mengurangi intensitas pemakaian aplikasi yang tidak berkaitan dengan pembelajaran di gadget tersebut khusunya di dalam waktu pembelajaran kelas. Jika tidak, kelas akan menjadi membosankan dan murid pastinya akan lebih tertarik dengan gadget dibandingkan mendengarkan penjelasan dari guru yang berada di depan kelas. Murid akan mengasumsikan bahwa mereka sudah tidak butuh pengajar karena mereka bisa menemukan konten pembelajaran mereka hanya dengan membuka gadget. Bahkan mereka sudah bisa mengetahui konten pelajaran jauh sebelum konten tersebut diajarkan di dalam kelas.
            Jika sudah menghadapi hal yang seperti itu, yang dibutuhkan pendidik untuk menjalankan perannya adalah sebuah strategi. Bagaimana caranya menggabungkan teknologi tersebut ke dalam pelajaran sehingga teknologi tersebut menjadi berguna dan juga memaksimalkan serta memanfaatkan kemajuan teknlogi sehingga tidak menjadi bumerang untuk diri sendiri. Yang jelas, peran guru tidak bisa tergantikan oleh teknologi. Yang artinya, dalam hal ini guru harus sebaik-baiknya memanfaatkan teknologi di dalam pendidikan dengan contoh memakai berbagai platform kelas online atau juga bisa dengan social media. Dengan begitu, peran guru tetap dijalankan dan pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan baik untuk murid maupun pendidik. Ringkasnya, intregasi dalam pembelajaran dengan tekhnologi akan menyebabkan keefektivan dan kemudahan bagia pencapaian pembelajaran dalam era digital.
PENUTUP
            Era Revolusi Industri 4.0 membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan merubah pola pergerakan manusia. Era RI 4.0 juga mempengaruhi berbagai aspek di dalam kehidupan manusia khususnya dalam pembelajaran. Meskipun mempunyai pengaruh dalam pengurangan tenaga kerja manusia, dan munculnya sejumlah tantangan yang pastinya tidak akan mudah. Dalam sector pendidikan, pendidik sudah mampu menakhlukan tantangan dari era RI 4.0 dan memanfaatkan kemajuan teknologi. Antara adaptasi dan perubahan, pendidik harus terus bisa memikirkan cara pembelajaran dan peran guru dalam pembelajaran dan juga harus mengadaptasi program seperti konten kurikulum untuk mempersiapkan murid pada abada 21 dan juga memilih dan menerapkan model pembelajaran yang cocok untuk generasi millennial. Dalam hal ini, semoga kita dapat memanfaatkan teknologi secara maksimal dan menghasilkan keuntungan yang dihasilkan dari RI 4.0 untuk pendidikan di masa depan.
DAFTAR PUSTAKA
Afrianto. Being a Professional Teacher in the Era of Industrial Revolution 4.0: Opportunities, Challenges and Strategies for Innovative Classroom Practices. English Language Teaching and Research Vol 2 No 1, Desember 2018 ISSN 2614-1108.
Angelianawati, L. Being an English Teacher in Industrial Revolution 4.0: an Overview About Roles, Challenges, and Implications. JDP Volume 11, Nomor 3, November 2018: 307-316.
Helmi, J. (2015). Kompetensi Profesionalisme Guru. 7(2). Hal 318
Naim, A. (2017). Ristek & Pendidikan Tinggi Menghadapi Perekonomian Baru.
Palmer, P. J. (1998). The courage to teach: exploring the inner landscape of a teacher's life. San
Francisco, Calif: Jossey-Bass.
Schwab, Klaus. The Global Competitiveness Report 2017–2018. World Economic Forum Insight Report, ISBN-13: 978-1-944835-11-8.
Tudor, Sofia Loredana. (2013). Formal, non formal, informal in education. Sciverse Sciencedirect: Procedia Social and Behavioral Science.


PERAN PROFESI PENDIDIK PENDIDIKAN FORMAL DAN PENDIDIKAN NONFORMAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

PERAN PROFESI PENDIDIK  FORMAL DAN  NON FORMAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Nina Deslina ninadeslina@gmail.com sunfloweraddict.blo...